Untuk menopang ekonomi keluarga, pilihan menjadi wirausaha dapat dilakukan para ibu rumah tangga. Asal dilakoni dengan tekun, langkah tersebut ternyata banyak menemui hasil.
Menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga merupakan pilihan mulia. Pasalnya, berkat seorang ibu rumah tangga, urusan rumah dapat tertangani, dan anak-anak bisa mendapatkan asuhan serta pendidikan yang baik.
Namun sering kali pilihan menjadi ibu rumah tangga dihadapkan pada kebosanan. Bayangkan, dalam waktu 24 jam, selama bertahun-tahun, mereka hanya berkutat pada rutinitas.
Yakni, mengurus rumah, suami, dan anak. Memang ini cukup membahagiakan bagi sebagian perempuan, namun ada pula yang tidak menikmatinya.
Memang, kebosanan kerap menghinggapi perempuan ketika anak-anak sudah beranjak mandiri dan dewasa, ketika peran ibu sudah tidak lagi dominan.
Akibatnya, banyak waktu luang yang bisa diisi dengan beragam kegiatan. Sayang, banyak ibu yang kerap kebingungan harus mengisinya dengan kegiatan apa.
Akhirnya banyak ibu mengikuti kegiatan sosial, aktif di bidang keagamaan, hingga menjalani bisnis di rumah demi mencari kesibukan dan sarana aktualisasi diri, juga sebagai tempat untuk menjalin pertemanan.
Belakangan ini, banyak ibu rumah tangga mengisi waktu luangnya dengan berbisnis.
Lihat saja buku-buka tentang pola berusaha di rumah yang kini begitu laris di pasaran.
Banyak ibu rumah tangga yang berminat mengisi waktu luangnya dengan usaha produktif, misalnya membuat kue, produk kerajinan, hingga membuka butik di rumah.
Seperti dilakoni Vita Vitriana, 34 tahun. Pemilik usaha Fitria Butik itu mengaku merasa jenuh lantaran banyak waktu luang di rumah.
Singkat cerita, dia kemudian membuat usaha butik kecil-kecilan di rumahnya di bilangan Jatiasih, Bekasi.
“Ini saya lakukan untuk mengatasi kejenuhan dan mengisi waktu yang terbuang percuma,” papar Vita.
Vita bersyukur usaha busana muslim yang dirintis sejak 2008 itu kini berkembang pesat.
Bahkan sejak dua bulan lalu, dia mengembangkan pola pemasarannya melalui jaringan Internet.
Kendati dari sisi omzet masih terbilang kecil, dikatakan Vita, usahanya terus menunjukkan peningkatan cukup signifikan.
Jika Vita sudah menjalani profesi sebagai pengusaha busana muslim, lain halnya dengan Rini Widowati, 34 tahun.
Ketika ditemui pada acara workshop wirausaha yang digelar sebuah majalah perempuan, dia mengaku masih mencari jenis usaha yang tepat untuk dijalani.
Perempuan yang sekarang bekerja sebagai manajer data servis internasional itu mengatakan suatu saat akan mundur dari pekerjaannya, dan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga.
Sekarang Rini terus mencari bisnis yang tepat untuk dijalani. “Saya sedang memilih mana yang tepat. Dengan mengikuti workshop ini, siapa tahu bisa membantu,” tutur Rini.
Memang, usaha mandiri yang dilakukan ibu rumah tangga memiliki kelebihan tersendiri.
Lihat saja bagaimana pengalaman Vita saat menjalani usahanya. Sambil menekuni usaha di rumah, dia juga dapat mengurus anak dan suami karena, dari sisi waktu, jika dibandingkan bekerja di kantoran, usaha di rumah jauh lebih fleksibel.
“Role Model” Rini sendiri tersadar, sudah saatnya dia harus berhenti bekerja dan berbalik mempekerjakan orang lain.
Selain itu, usaha mandiri menuntut orang berpikir kreatif mengeluarkan ide-idenya yang selama ini terpendam.
Menurut Choirul Djamhari, Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, ibu rumah tangga memiliki kelebihan dalam menjalani usaha ketimbang orang lain.
“Mereka sangat tertib dalam menjalankan usaha, memiliki akuntabilitas yang baik, dan taat dalam menjalankan keuangan,” papar dia.
Semakin banyaknya kaum ibu yang melakukan usaha di rumah, tambah Choirul, akan membantu ekonomi bangsa ini meski secara angka tidak begitu terlihat.
“Ekonomi keluarga menjadi kuat dengan bertambahnya pemasukan uang yang diperoleh lewat usaha ibu rumah tangga,” jelas Choirul.
Kini, yang perlu dilakukan agar semakin banyak ibu rumah tangga menjadi wirausaha adalah mengajak mereka untuk memulai.
Cara yang dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM adalah dengan memberikan role model atau orang yang dapat dijadikan contoh.
“Kita harus memberikan role model agar mereka tergerak,” ujar Choirul. Jika kaum ibu sudah diberi contoh, tambah Choirul, biasanya mereka akan mudah memulainya.
Karena, seperti pepatah Amerika “monkey see, monkey do”, mereka akan mudah memulai jika diberikan contoh.
“Ketika mereka diajari membuat pastel, mereka inginnya juga membuat usaha serupa,” ucapnya.
Namun sayangnya, menurut Choirul, banyak ibu rumah tangga yang mencontoh mentah-mentah usaha yang dilakukan role model-nya.
Dia mengambil contoh kejadian di sebuah desa di daerah Banten. Lantaran diberi contoh mengembangkan emping melinjo, semuanya bergerak dalam usaha serupa.
Jika semua menjadi produsen, Choirul bertanya, siapa yang akan menjadi konsumennya.
Padahal wilayah edar hasil usaha mereka masih terbatas, hanya seputar tempat tinggal mereka.
“Ini merupakan ciri khas usaha mikro yang dikembangkan ibu rumah tangga, yakni memiliki keterbatasan dalam distribusi,” kata dia.
Kendala lainnya, selama ini ibu rumah tangga masih melakukan usaha berdasarkan production brief, yakni membuat produk yang bisa diproduksi.
Padahal agar berhasil, seharusnya mengacu pada konsep market brief, yakni memproduksi barang yang bisa dipasarkan.
Ditambahkan Bagong Suyatno, pengajar Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, usaha yang dilakukan ibu rumah tangga yang memiliki skala mikro dengan omzet tidak lebih dari lima juta rupiah harus didudukkan pada fungsinya.
“Usaha mereka lebih untuk mengombinasikan sumber penghasilan,” ungkapnya.
Misalnya suami yang berprofesi sebagai petani, sementara istrinya melakukan usaha mengolah makanan untuk dijual ke warung-warung.
Atau suami berprofesi sebagai pegawai swasta, sang istri dapat menambah penghasilan dengan membuat kerajinan dari bordir dan sejenisnya.
“Usaha yang dilakukan merupakan usaha sampingan untuk menambah penghasilan,” papar Bagong.
Selain itu, menurut Bagong, sebaiknya usaha mereka bersifat linier. Artinya, skala usaha mereka dijaga agar tetap seperti semula.
Kebangkrutan biasanya terjadi karena ingin untung besar dan nafsu membesarkan usaha agar bisa naik kelas. “Yang harus dijaga ambisi untuk memperbesar skala usaha.
UMKM naik kelas merupakan awal kebangkrutan,” ujar dia. Naiknya skala usaha akan semakin membutuhkan modal usaha dan meningkatkan persaingan.
Usaha naik kelas, lanjut Bagong, akan memunculkan persaingan lebih kuat, yang sering kali tidak siap dihadapi para ibu rumah tangga dengan usaha mikronya.
Tutupnya usaha para ibu, kata Bagong, juga bisa terjadi karena proses pengikisan modal akibat kebutuhan.
“Pengikisan modal dan keperluan mendadak, seperti biaya berobat, membuat usaha para ibu gulung tikar. Ini yang harus diantisipasi.”
Namun sering kali pilihan menjadi ibu rumah tangga dihadapkan pada kebosanan. Bayangkan, dalam waktu 24 jam, selama bertahun-tahun, mereka hanya berkutat pada rutinitas.
Yakni, mengurus rumah, suami, dan anak. Memang ini cukup membahagiakan bagi sebagian perempuan, namun ada pula yang tidak menikmatinya.
Memang, kebosanan kerap menghinggapi perempuan ketika anak-anak sudah beranjak mandiri dan dewasa, ketika peran ibu sudah tidak lagi dominan.
Akibatnya, banyak waktu luang yang bisa diisi dengan beragam kegiatan. Sayang, banyak ibu yang kerap kebingungan harus mengisinya dengan kegiatan apa.
Akhirnya banyak ibu mengikuti kegiatan sosial, aktif di bidang keagamaan, hingga menjalani bisnis di rumah demi mencari kesibukan dan sarana aktualisasi diri, juga sebagai tempat untuk menjalin pertemanan.
Belakangan ini, banyak ibu rumah tangga mengisi waktu luangnya dengan berbisnis.
Lihat saja buku-buka tentang pola berusaha di rumah yang kini begitu laris di pasaran.
Banyak ibu rumah tangga yang berminat mengisi waktu luangnya dengan usaha produktif, misalnya membuat kue, produk kerajinan, hingga membuka butik di rumah.
Seperti dilakoni Vita Vitriana, 34 tahun. Pemilik usaha Fitria Butik itu mengaku merasa jenuh lantaran banyak waktu luang di rumah.
Singkat cerita, dia kemudian membuat usaha butik kecil-kecilan di rumahnya di bilangan Jatiasih, Bekasi.
“Ini saya lakukan untuk mengatasi kejenuhan dan mengisi waktu yang terbuang percuma,” papar Vita.
Vita bersyukur usaha busana muslim yang dirintis sejak 2008 itu kini berkembang pesat.
Bahkan sejak dua bulan lalu, dia mengembangkan pola pemasarannya melalui jaringan Internet.
Kendati dari sisi omzet masih terbilang kecil, dikatakan Vita, usahanya terus menunjukkan peningkatan cukup signifikan.
Jika Vita sudah menjalani profesi sebagai pengusaha busana muslim, lain halnya dengan Rini Widowati, 34 tahun.
Ketika ditemui pada acara workshop wirausaha yang digelar sebuah majalah perempuan, dia mengaku masih mencari jenis usaha yang tepat untuk dijalani.
Perempuan yang sekarang bekerja sebagai manajer data servis internasional itu mengatakan suatu saat akan mundur dari pekerjaannya, dan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga.
Sekarang Rini terus mencari bisnis yang tepat untuk dijalani. “Saya sedang memilih mana yang tepat. Dengan mengikuti workshop ini, siapa tahu bisa membantu,” tutur Rini.
Memang, usaha mandiri yang dilakukan ibu rumah tangga memiliki kelebihan tersendiri.
Lihat saja bagaimana pengalaman Vita saat menjalani usahanya. Sambil menekuni usaha di rumah, dia juga dapat mengurus anak dan suami karena, dari sisi waktu, jika dibandingkan bekerja di kantoran, usaha di rumah jauh lebih fleksibel.
“Role Model” Rini sendiri tersadar, sudah saatnya dia harus berhenti bekerja dan berbalik mempekerjakan orang lain.
Selain itu, usaha mandiri menuntut orang berpikir kreatif mengeluarkan ide-idenya yang selama ini terpendam.
Menurut Choirul Djamhari, Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, ibu rumah tangga memiliki kelebihan dalam menjalani usaha ketimbang orang lain.
“Mereka sangat tertib dalam menjalankan usaha, memiliki akuntabilitas yang baik, dan taat dalam menjalankan keuangan,” papar dia.
Semakin banyaknya kaum ibu yang melakukan usaha di rumah, tambah Choirul, akan membantu ekonomi bangsa ini meski secara angka tidak begitu terlihat.
“Ekonomi keluarga menjadi kuat dengan bertambahnya pemasukan uang yang diperoleh lewat usaha ibu rumah tangga,” jelas Choirul.
Kini, yang perlu dilakukan agar semakin banyak ibu rumah tangga menjadi wirausaha adalah mengajak mereka untuk memulai.
Cara yang dilakukan Kementerian Koperasi dan UKM adalah dengan memberikan role model atau orang yang dapat dijadikan contoh.
“Kita harus memberikan role model agar mereka tergerak,” ujar Choirul. Jika kaum ibu sudah diberi contoh, tambah Choirul, biasanya mereka akan mudah memulainya.
Karena, seperti pepatah Amerika “monkey see, monkey do”, mereka akan mudah memulai jika diberikan contoh.
“Ketika mereka diajari membuat pastel, mereka inginnya juga membuat usaha serupa,” ucapnya.
Namun sayangnya, menurut Choirul, banyak ibu rumah tangga yang mencontoh mentah-mentah usaha yang dilakukan role model-nya.
Dia mengambil contoh kejadian di sebuah desa di daerah Banten. Lantaran diberi contoh mengembangkan emping melinjo, semuanya bergerak dalam usaha serupa.
Jika semua menjadi produsen, Choirul bertanya, siapa yang akan menjadi konsumennya.
Padahal wilayah edar hasil usaha mereka masih terbatas, hanya seputar tempat tinggal mereka.
“Ini merupakan ciri khas usaha mikro yang dikembangkan ibu rumah tangga, yakni memiliki keterbatasan dalam distribusi,” kata dia.
Kendala lainnya, selama ini ibu rumah tangga masih melakukan usaha berdasarkan production brief, yakni membuat produk yang bisa diproduksi.
Padahal agar berhasil, seharusnya mengacu pada konsep market brief, yakni memproduksi barang yang bisa dipasarkan.
Ditambahkan Bagong Suyatno, pengajar Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, usaha yang dilakukan ibu rumah tangga yang memiliki skala mikro dengan omzet tidak lebih dari lima juta rupiah harus didudukkan pada fungsinya.
“Usaha mereka lebih untuk mengombinasikan sumber penghasilan,” ungkapnya.
Misalnya suami yang berprofesi sebagai petani, sementara istrinya melakukan usaha mengolah makanan untuk dijual ke warung-warung.
Atau suami berprofesi sebagai pegawai swasta, sang istri dapat menambah penghasilan dengan membuat kerajinan dari bordir dan sejenisnya.
“Usaha yang dilakukan merupakan usaha sampingan untuk menambah penghasilan,” papar Bagong.
Selain itu, menurut Bagong, sebaiknya usaha mereka bersifat linier. Artinya, skala usaha mereka dijaga agar tetap seperti semula.
Kebangkrutan biasanya terjadi karena ingin untung besar dan nafsu membesarkan usaha agar bisa naik kelas. “Yang harus dijaga ambisi untuk memperbesar skala usaha.
UMKM naik kelas merupakan awal kebangkrutan,” ujar dia. Naiknya skala usaha akan semakin membutuhkan modal usaha dan meningkatkan persaingan.
Usaha naik kelas, lanjut Bagong, akan memunculkan persaingan lebih kuat, yang sering kali tidak siap dihadapi para ibu rumah tangga dengan usaha mikronya.
Tutupnya usaha para ibu, kata Bagong, juga bisa terjadi karena proses pengikisan modal akibat kebutuhan.
“Pengikisan modal dan keperluan mendadak, seperti biaya berobat, membuat usaha para ibu gulung tikar. Ini yang harus diantisipasi.”
Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=53163
0 komentar:
Posting Komentar